Laskar Pelangi // Opini

JMPPK Terus Berbohong

May 1, 2017

Untuk memuluskan hasrat menggagalkan beroperasinya perusahaan negara PT Semen Indonesia (PT SI) di Rembang, Jawa Tengah, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang dikomandoi Joko Prianto dan Gunretno, tidak hentinya berbohong di media.

Baru-baru ini JMPPK menipu dengan mengirimkan undangan peliputan kepada wartawan untuk menghadiri diskusi Sedulur Kendeng di Kementerian ESDM. Tapi kemudian diketahui bahwa kesepakatan JMPPK dengan ESDM hanya audiensi tanpa melibatkan pihak media.

Cukup kontradiktif ketika perjuangan yang katanya mencari keadilan ternyata dilakukan dengan cara picik. Bohong sudah menjadi budaya pribadi Joko Prianto, Gunretno dan kelompok penolak. Menjadi penyakit yang sulit disembuhkan sehingga bukannya malu dan bersalah tapi justru bangga terus mengulangnya.

Gunretno mengaku dan membawa nama Komunitas Samin sebagai bagian dari dirinya. Tetapi kaum Samin asli telah dengan tegas menyatakan bahwa Gunretno bukan Samin!

Pernah juga dalam forum terbuka yang disiarkan sebuah radio swasta di Semarang, Gunretno mengakui hasil panen padi dari satu hektar sawahnya mencapai 17 ton. Tentu saja ini adalah perbuatan pembohongan publik.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Pati, Jawa Tengah, produktivitas padi sawah dan padi ladang rata-rata di tahun 2015 sebanyak 5,04 ton per hektar. Sementara di Kabupaten Rembang produktivitas padi sawah dan padi ladang rata-rata di tahun 2015 adalah 6,09 ton per hektar.

Bahkan persidangan yang menuntut pembuktian hukum sesuai fakta, JMPPK juga bohong kepada Hakim dengan menjadikan bukti daftar warga penolak PT SI berjumlah 2.051 padahal di dalam bukti itu adalah nama-nama robot yang biasa muncul dalam film seri anak-anak, seperti Ultraman, Power Rangers hingga ada yang menjabat copet terminal, presiden RI 2025, menteri dan pencatutan 30 nama balita sebagai tanda tangan palsu.

Kasus di Kementerian ESDM misalnya, dengan mengundang wartawan, JMPPK berusaha mengintimidasi Badan Geologi yang mulai bekerja kembali mengkaji CAT Watuputih sejak Selasa (18/4) agar tunduk pada kehendakknya.