Laskar Pelangi // Berita dari Medsos

Kesaksian Delegasi KM ITS pada Aksi Mahasiswa 3 Tahun Pementahan Jokowi yang berujung Ricuh

October 21, 2017

Rofi Arga Presiden BEM ITS kepalanya bocor kena hajar polisi

Rofi Arga Presiden BEM ITS kepalanya bocor kena hajar polisi

Kita Harus Mulai Beraksi di Mana Saja (Post kedua)
Oleh Berryl Ilham ( KM ITS Surabaya )

“HAHAHAHA” para polisi menertawakan para mahasiswa yang dengan gigih mempertahankan lokasi aksi ketika presiden Joko Widodo belum menemui massa. Beberapa saat kemudian para polisi mulai menendang-nendang. Suasana ricuh!

Aksi mahasiswa dan beberapa pihak lain Jumat malam hingga Sabtu dini hari berujung ricuh. Massa aksi yang terkumpul dari berbagai kalangan baik mahasiswa dan pekerja melakukan demonstrasi dalam rangka memperingati 3 tahun kepemimpinan presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla. Dari ITS sendiri sekitar 29 orang berangkat untuk ikut serta dalam menyuarakan suara rakyat.

Sebelum pemberangkatan aksi ini sudah ditentukan persiapan berupa hasil kajian beberapa isu, poin tuntutan dan berbagai persiapan teknis lain. Rabu dini hari lalu pun sudah ditandatangani bersama pernyataan sikap oleh KM ITS berupa beberapa poin tuntutan, yakni :

1. Menuntut pemerintah untuk menuntaskan pembangunan infrastruktur yang menunjang kemaritiman demi pemerataan ekonomi di seluruh negeri

2. Mendesak pemerintah untuk mempercepat proyek pembangunan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) di Indonesia Timur

3. Menuntut pemerintah untuk segera mewujudkan seluruh butir Nawacita

4. KM ITS menyatakan keterbukaan terhadap kerja sama pengembangan riset dan penerapan teknologi khususnya di bidang kemaritiman

 

Sebelum melaksanakan pernyataan sikap itu sendiri, berbagai kajian sudah beredar di kampus tercinta ini. Mulai dari kajian tol laut, garam dan lain sebagainya. Bentuk kajiannya pun sudah banyak mengalami kenaikan mutu dibandingkan kajian sebelumnya bahkan saya sendiri mengapresiasi poin keempat dari poin tuntutan yang sangat anti-mainstream

Menunjukkan keterbukaan dalam kerja sama riset dan penerapan teknologi adalah kunci. Karena dari sana akan banyak sekali bentuk perjuangan atau “aksi” yang bisa diejawantahkan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan tiap-tiap mahasiswa. Ada yang akan mengabdikan diri agar penelitian berjalan lancar, anak-anak PKM pun akan dapat wadah. Ada yang mengabdikan diri untuk pemberdayaan masyarakat pesisir maka anak anak Sosmas pun juga dapat jatah juga berbagai jenis mahasiswa lainnya.

Untuk sekarang saya ingin membahas lebih lanjut mengenai aksi turun ke jalan yang barusan kemarin terjadi.

Sejak pagi mahasiswa berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia, ITS sendiri berangkat dengan 2 kloter, pertama naik bis pada Kamis dini hari dan kereta api Kamis malam. Setelah Sholat Jumat, massa aksi berangkat ke patung kuda untuk mulai berorasi. Dari sini pun polisi sudah dikerahkan untuk mengawal berjalannya kegiatan bahkan menurut berita dikerahkan 11 ribu personel polisi untuk mengamankan sekitar seribu mahasiswa. Saat aksi memperingati 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK ternyata bersamaan dengan salah satu aliansi buruh dan darinya melakukan kolaborasi.

 

Jokowi ingkar janji untuk menemui Aksi Mahasiswa

Jokowi ingkar janji untuk menemui Aksi Mahasiswa

Sayangnya sebelum melakukan aksi, para mahasiswa harus berhadapan dengan kemungkinan penyelundup di aksinya. Biasanya penyelundup inilah yang melakukan tindakan perusakan ataupun kegiatan yang tidak sesuai dengan instruksi bersama. Biasanya akan dibentuk pagar betis agar provokator dari “pihak” tertentu ini tidak masuk ke massa. Alhamdulillah tidak ada provokasi sama sekali karena ketatnya pagar ini.

Saat sampai di depan istana ternyata mahasiswa sudah disambut dengan bergulung-gulung pagar berduri dan polisi bersenjata lengkap. Dengan banyaknya pencegahan untuk masuk ini, mahasiswa akhirnya melakukan orasinya di depan pagar berduri tersebut.

Aksi berjalan kondusif sampai malam hari, tetapi Jokowi sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda bertemu mahasiswa. Sedangkan instruksi dari Polda Metro Jaya menginginkan massa bubar pukul 18.00 WIB. Sampai pukul 23.00 mahasiswa yang melakukan aksi tidak bergeming dari tempat sebelum Jokowi turun untuk mulai berdialog.

Sayangnya pada sekitar pukul 23.30 polisi mulai bertindak melakukan pembubaran. Dan sayangnya lagi mereka melakukan tindakan keras terhadap para mahasiswa yang masih kekeuh berada di depan istana. Banyak yang dipukuli, banyak yang luka dan ada beberapa mahasiswa yang ditangkap karena dianggap sebagai provokator kericuhan.

Saya bingung di sini. Pembubaran dilakukan oleh pihak kepolisian, kita sendiri tidak melakukan tindak apapun yang berkaitan dengan hal ricuh saat jalannya aksi dari siang. Kemudian saat polisi yang bergerak dengan massa 11 kali lipat, alat pengamanan lengkap, kendaraan berjubel melakukan “pengamanan” malah kita yang ditangkap karena “memprovokasi”.

Mirisnya lagi, sedikit sekali pemberitaan media tentang hal ini. Silakan cek Kompas atau Jawa Pos hari ini. Tentunya kawan-kawan sedikit yang tahu kalau presiden BEM kita Rofi Arga Hardiansyah juga sampai berdarah karena dipukul oleh polisi di kepala bagian belakang. Kawan-kawan yang berangkat aksi pun mengaku selalu “dicolek” para polisi pada malam harinya.

Salah seorang peserta aksi, Nabhan Rusydi memaparkan bahwa kondisi saat menjelang pukul 12 malam sangat menekan. “kami mahasiswa ditekan dari berbagai sisi, dari istana negara, monas dan dari patung kuda meringsek masuk ke barisan kami sampai kami terpecah kemudian mulai semrawut. Saat kami mundur polisi dari monas malah melempari kami dengan batu. Kacau”

Menurut Nabhan suasana di medan aksi sangat tidak baik. Ketika mahasiswa membawa tuntutan agar rakyat menjadi baik malah ditertawakan dan ditekan.

M Abdurrokhim, koordinator aksi dari ITS sendiri juga sempat mendapatkan pukulan di perut dan dada sampai 4 kali. Ia menjelaskan bahwa ada 12 orang dari mahasiswa yang ditangkap karena dituduh memprovokasi.

“Kalau dari berita arus mainstream, biasanya dijelaskan bahwa kontak fisik polisi disebabkan mahasiswa yang memulai, mahasiswa yang memprvokasi. Padahal gak pernah sama sekali kita ribuan mahasiswa ini main fisik, ngerusak, apalagi provokasi

 

BAGI BAGI GRATIS ESSENTIAL OIL DI KIRIM KE ALAMAT ANDA, MAU ?

BERNAFAS DENGAN MUDAH

Kekayaan isi dan aroma dari Essential oil Breath memberikan pernapasan anda menjadi dalam dan segar . EO Breath ini membuat anda mudah bernafas , membuat anda tidak mengantuk dan memberikan rasa kesegaran dan sensasi rasa menyejukkan. Produk ini memberikan sensasi rasa dingin , segar dan membersihkan keadaan disekeliling anda.)

 


“Fyi semua anak its kena hajar, tinju, pukulan helm dsb. KITA GAK BALAS. KITA SABAR. DEMI ALLAH. Mereka terus push dan hajar anarkis sana sini.” Yang dikonfirmasi masih berada di Jakarta pagi ini.

Sekarang para massa aksi sudah dipecah, ada yang dipulangkan semalam ada pula yang masih bertahan di Jakarta menunggu kepastian 12 kawan yang ditahan

Lalu dari dramatika represif yang dimainkan pemerintah dan aparat apakah kita masih juga meragukan jalannya aksi? Saya tidak mengeksklusifkan diri dengan mengkotakkan aksi sebagai turun ke jalan karena ada berbagai aksi lain, tetapi aksi turun ke jalan merupakan hal yang penting mengingat rezim fasis gaya baru ini tidak mau mendengar secara baik baik, buktinya dengan melakukan korespondensi yang intens juga melakukan aksi damai ternyata tidak membuahkan hasil “simpati” dari pemerintah.

Semoga apa yang dilaksanakan kita sebagai mahasiswa yang melihat banyak sekali tindakan dan kebijakan buruk yang dilakukan pemerintah mulai sadar dan mulai berkreasi supaya Indonesia menjadi baik.

Saat ini kita doakan keselamatan bersama kepada kawan-kawan kita yang sudah terluka, yang ditangkap, yang sudah berangkat ke Jakarta, dan untuk kita semua. Semoga kita mampu membawa negeri ini menjadi baik. Kelak.