Laskar Pelangi // Opini

Mas Gunretno, Sehat?

April 22, 2017

Apa sebenarnya yang membentuk konflik Semen Indonesia dengan Gunretno dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK)-nya? Ada banyak faktor, namun sekarang ini yang akan dibahas adalah logika yang dipakai Gunretno dalam melawan perusahaan BUMN ini.

Semen Indonesia dianggap kapitalis, karena berupa industri, pabrik, membutuhkan lahan pertanian, dan tidak menyerap banyak tenaga kerja.

Logika seperti ini, masih menganggap “negara” dan “pabrik” sebagai sesuatu yang jahat karena berani menggeser fungsi pertanian dan tidak menyerap tenaga kerja. Ada kekhawatiran dan kecemasan, yang lebih dominan, daripada optimisme terhadap perubahan.

Pada perkembangan selanjutnya Gunretno seperti selalu salah ucap ketika diwawancari oleh media. Contohnya kala Gunretno bilang Abetnego Tarigan tidak ikut dialog dengan presiden, waktu ditanya Ganjar Pranowo.

Padahal nyatanya Abetnego Tarigan ikut di sana. Dan dalam dialog dengan Presiden, tidak ada pembahasan tutup-menutup pabrik semen. Memang, dalam dialog, tidak ada pembahasan tutup-menutup pabrik semen. Gunretno lupa itu, lalu berkoar-koar, “Pabrik harus dihentikan..” dst.

Gunretno sepertinya senang berada di dalam zona nyaman hidupnya sendiri. Zona nyaman bagi Gunretno adalah tidak perlu sekolah, tidak perlu berubah, tidak perlu pergi terlalu jauh, secara fisik maupun pikiran. Dia tidak ingin ada pergeseran. Biarkan hidup seperti nenek moyang dulu. Itulah yang sering dia ucapkan saat berkoar di layar kamera bahkan media sosial.

Penampilannya yang sering memakai iket, penutup kepala dan baju hitam mengesankan, dia orang samin asli yang tak butuh pendidikan tinggi dan menjunjung tinggi adat. Sebenarnya adat mana yang Mas Gun junjung?

Sayangnya sudah bukan rahasia lagi jika para tetua Samin yang melakukan kunjungan ke Ganjar Pranowo, sering bilang, “Jangan kaitkan Samin dengan Semen.”. Samin tidak mengajarkan “iri, permusuhan, dan kedengkian, tidak ada dalam ajaran Samin,”.

Sekarang ini, Gunretno sudah tidak banyak bicara dengan para tetua Samin. Para tetua Samin pun tidak mau dipakai namanya untuk gerakan “tolak semen”.

Gunretno sudah jadi bos kalau kata orang-orang disekitarnya. Dia memiliki usaha, bahkan sudah tidak perlu dikerjakan sendiri. Ada adiknya yang mengirim hasil tambang ke Kaliyoso Kudus (dari Kedungwinong, Pati).

Meski menurut Kartu Kartu Keluarga Gunretno tidak lulus SD, tapi dia sudah pegang laptop dan memakai hape Oppo. Rumahnya di Sukolilo bagus, harganya milyaran, satu di antara rumah dia yang lain. Gunretno menjadi ketua JMPPK Rembang. Orang-orang dunia maya sepertinya tidak tahu kalau Gunretno bukan orang Rembang.

Lalu, Apakah anda tahu siapa saja yang ikut demo di belakang Gunretno dan JMPPK Rembang? Untuk mengerahkan massa yang mungkin banyak itu tentu perlu dana. Apalagi sampe jalan dari Rembang ke Semarang bahkan sampe menemui Jokowi di Istana Negara. Tentu butuh uang banyak bukan? Pertanyaannya sekarang dari mana aliran dari organisasi non profit dan LSM ini berasal?

Gunretno itu bukan sekadar “pemain”. Dia sangat pintar. Berbanggalah punya orang selicin Gunretno yang bisa membuat Yogyakarta dan Jakarta bersatu. Berbangga hatilah punya tetangga yang membangun pencitraan bahwa seolah-olah orang-orang menolak pendirian pabrik Semen Indonesia di Rembang.

Betapa pintar mereka berkilah, ketika tanda tangan ultraman dan power rangers dimenangkan, mereka bilang, “Pokoknya kami menang. Jalankan sesuai keputusan!”.

Mereka diprotes-balik oleh orang-orang di medsos, Gunretno cs. merasa ditindas. Malah mau kriminalisasi. Padahal Gunretno itu yang kriminal. Dia yang memimpin gerakan “tolak semen” sekarang, dengan memakai Ultraman dan Power Rangers di dalam 2501 tanda tangan.

Kok bisa ya, orang “tolak semen” itu mengulang-ulang di medsos tentang bahaya industrialisasi semen, tapi ngumpet kalau ditantang adu data?

Ke mana orang-orang Rembang sebenarnya? Mengapa mereka rela aset 5 trilyun dipakai main-main oleh segelintir orang luar Rembang? Bahkan mengaku-aku sebagai “Kartini Kendeng”? Enak banget. Begitu mudahkah menjadi Kartini hanya karena merasa ditindas dan mengecor kaki dengan semen di depan istana negara?

Jangan marah, kalau sekarang orang-orang Rembang mulai akan mengusirmu Mas Gun. Bukan Gunretno yang berhak mengatur orang Rembang. Gunretno hanya berhak mengelabui orang di media sosial, namun dia tidak berhak marah kalau orang-orang Rembang segera usut-tuntas siapa sebenarnya Gunretno dan orang-orang di baliknya.

Jangan marah kalau orang Rembang sudah memilih, bagaimana akan memperlakukan Gunretno. Di Tegaldowo maupun di media sosial.

Sumber : https://bangjo.co/apa-kabar-mas-gunretno-sehat/