Laskar Pelangi // Opini

Plesiran ke Jerman? Gunarti Cari Perhatian!

May 3, 2017

Untuk mendapat dukungan terhadap penolakan berdirinya pabrik Semen Indonesia di Rembang, sekelompok warga (termasuk Gunarti) rela pergi ke Jerman. Apa yang mereka lakukan? Dapat uang dari mana untuk pergi ke sana?

Lewat film Samin vs Semen yang penuh kebohongan mereka menjelekan negeri sendiri di hadapan warga luar yang tak paham persoalan.

Aksi yang mengangkat nama gerakan solidaritas internasional ini tidak lebih sebagai ajang menjual belas kasihan, mempertontonkan kebohongan sendiri dan mengharap sanjungan. Jika warga di Indonesia sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga pada akhirnya tidak mendukung mereka, mencari dukungan warga luar jadi dalih mencari dana untuk memuluskan hasrat mereka menggerogoti NKRI.

Pemutaran film digunakan sebagai cara mencari dukungan adalah bahasa paling universal yang dapat diterima oleh semua orang di dunia. Meski tanpa terjemahan, orang akan terbawa suasana melalui trik audio visual. Tidak perlu repot-repot berbicara lewat kata, maka itu cukup menjadi cara ampuh mendapat dukungan warga.

Persoalan pabrik semen di kendeng bukanlah sekelumit persoalan yang ditampilkan dalam bingkai Samin vs Semen, jauh dari itu banyak hal yang tak bisa langsung dipahami oleh semua pihak.

Pengaburan fakta yang lebih mengedepankan “simpatisme” sehingga menimbulkan kesan kasihan akan lebih dulu timbul dari khalayak. Apalagi kemudian, pemerintah sudah melakukan serangkaian cara agar persoalan kendeng selesai. KLHS Nasional yang meski kelahirannya cacat hukum tetap diterima tugasnya. Membuka forum-forum dialog dengan warga.

Pertanyaanya, jika Samin vs Semen berhasil menarik dukungan sejumlah warga internasional, mau ditempatkan dimana win-win solution kendeng ini? Apa lantas menjadi satu solusi yang lebih konkret ketimbang kajian pemerintah? Atau malah semakin membuat runyam dengan demo yang makin menggila?